Upacara Pitra Yadnya ( Ngaben ) Jro Mangku Dalem Desa Istri Lingsir

Minggu, 29 Januari 2017

Om Suastiastu, semoga semua berbahagia

img_0395    Duka bagi warga Br.Aseman karena telah berpulang, Jro Mangku Istri lingsir, dan hari ini merupakan upacara pengabenan beliau. Upacara Ngaben merupakan merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Beberapa pengertian dari Ngaben, sebagai berikut : 1. Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). 2. Versi lain mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka. 3. Versi lain, Ngaben berasal dari nge – “abu” – in. Disandikan menjadi Ngaben, merupakan upacara pengembalian unsur tubuh kepada unsur alam. (diambil dr wikipedia)

Sebelumnya sudah dilaksanakan berbagai rangakaian upacara yakni , sebelumnya diadakan upacara nyiramin /melelet yaitu Upacara memandikan dan membersihkan jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan (natah). Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugerahi badan yang lengkap.

Selang beberapa hari, setelah nya dilaksanakan prosesi nyalinan, yang dilakukan tepat pukul 12.00 malam dimana semua sarana yang dipakai pada saat melelet diganti dengan yang baru ,dan sarana bekas dr prosesi tersebut, atau istilah nya sok ceg ceg di bawa ke setra untuk dibakar, pada saat prosesi ngutang (membuang) sok cek ceg ini dilakukan tepat pukul 12.00 malam di setra kembengan desa adat blahkiuh, hal ini dilakukan oleh keluarga jro mangku dan dibantu seluruhnya oleh warga banjar aseman.

Sehari setelahnya dilanjutkan upacara mendak tirta ning dan upacara ngaskara, Ngaskara bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.

Dan hari ini tepatnya 29 Januari 2017 pukul 09.00 dilaksanakan Upacara Pengabenan beliau, pagi-pagi sebelumnya sudah dilakukan persiapan mulai dari bade dan sarana lainnya, warga beberapa jam sebelumnya sudah berkumpul di rumah jro mangku, berhubung Setra Gede Desa Adat Abiansemal belum boleh dimanfaatkan karena masih ada proses perbaikan di Pura Dalem Gede Desa Abiansemal, maka prosesi pembakaran jenazah di lakukan di setra kembengan Desa Adat Blahkiuh.

Astungkara, semua rangkaian upacara berjalan dengan baik, kita pahami dan rasakan bersama bahwa semangat gotong royong yang kita miliki bersama di Br.Aseman khususnya begitu kental, hingga sesulit apapun masalah yang kita hadapi di Banjar Aseman niscaya bisa terselesaikan. Mudah-mudahan semangat ini bisa terjaga dan dapat dilestarikan hingga bisa diwariskan ke generasi berikutnya.

Demikian informasi yang bisa kami sampaikan kalaupun ada yang salah dalam penyampaiannya mohon maaf dan mohon dikoreksi bersama, kami harap lewat media ini bisa bermanfaat untuk kebaikan kita bersama, dibawah ada beberapa gambar yang diambil dari team dokumentasi serta diambil dari beberapa warga, matur suksma.

Om Shanti Shanti Shanti Om

img_0311

img_0286

img_0307

img_0291

img_0304

img_0334

img_0336

img_0399

 

img_0396

img_0366

img_0372

img_0394

img_0374

img_0382

img_0398

img_0387

img_0389

img_0395

 

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: