Bandul Kedamaian

image

Suatu hari seorang istri yang suaminya mengidap penyakit jantung kronis kaget karena suaminya memenangkan lotere. Takut ada apa-apa dengan suaminya, wanita baik ini lari ke Romo tempat mereka sering berkonsultasi. Dengan lembut Romo bertanya pada lelaki pemenang lotere ini: “apa yang Anda lakukan kalau menang lotere?”. Dengan tegas ia menjawab: “sebagian uangnya akan saya kasi Romo!”. Begitu mendengar jawaban seperti itu, malah Romo yang wafat mendadak.

Pelajaran yang bisa ditarik dari cerita ini sederhana, kehidupan bergerak serupa bandul. Tiap kali bandulnya ditarik ke sebuah titik ekstrim, ia akan balik ke titik ekstrim yang lain. Itu sebabnya, meditasi selalu menekankan pentingnya jalan tengah, terutama dengan tersenyum menyaksikan setiap berkah kekinian.

Setiap kali berjumpa jiwa-jiwa lelah dan gelisah, terlihat sekali di mata mereka bekas gerakan bandul yang ekstrim. Tatkala mereka senang, mereka rayakan sekencang-kencangnya. Saat mereka sedih, mereka menangis sesedih-sedihnya. Sebagai akibatnya, jiwa kelelahan dihempaskan gerakan bandul. Bahkan ada yang sakit keras, ada juga yang mencoba bunuh diri berkali-kali.

Seorang ibu yang mengaku pernah mencoba bunuh diri sampai tiga kali membuka rahasia, matanya lelah, jiwanya gelisah, pikirannya serba salah. Sejumlah orang tua anak-anak berkebutuhan khusus juga serupa. Badannya lelah sekali. Sebagian bahkan menghukum diri sebagai jiwa-jiwa yang sangat berdosa.

Jiwa-jiwa seperti inilah yang perlu belajar melihat cahaya di balik penderitaan. Penderitaan bukan hukuman, bukan dosa, ia membawa cahaya pengertian yang mendalam. Serupa kegelapan yang membuat cahaya memancar lebih terang, demikianlah penderitaan mengantar jiwa-jiwa agar melangkah pulang ke rumah cahaya.

Zaman ini mengagumi Nelson Mandela, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi serta YM Dalai Lama. Mereka memang tumbuh di tradisi yang berbeda, tapi semuanya dibuat sangat bercahaya oleh penderitaan. Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun, Bunda Teresa menghabiskan sebagian lebih hidupnya di tengah kemiskinan Kalkuta, Mahatma Gandhi ditembak, YM Dalai Lama kehilangan negerinya di umur 15 tahun.

Ringkasnya, bila membekali diri dengan ketulusan, keikhlasan, kejujuran, penderitaan akan terlihat membawa cahaya di belakang punggungnya. Sejumlah Guru bahkan berpesan: “Hanya penderitaan yang bisa menghantarkan kedalaman”. Sesuatu yang tidak mungkin diberikan oleh kesenangan dan kebahagiaan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar bisa melihat cahaya di balik penderitaan? Pertama-tama, penderitaan adalah cara sang jiwa memurnikan dirinya. Ia mirip dengan amplas yang menghaluskan kayu. Kedua, penderitaan adalah bel suci yang mengingatkan kalau jiwa tumbuh terlalu jauh dari rumah (home). Ketiga, bila dialami dengan penuh ketulusan, penderitaan membuat seseorang menggali ke dalam dirinya sehingga berjumpa serangkaian kedalaman.

Dengan kompas seperti ini, perjalanan jiwa seyogyanya mengucapkan terima kasih pada penderitaan. Terutama karena penderitaan adalah tangan suci yang membawa jiwa pulang kembali ke rumah sejati. Tanpa penderitaan, jiwa-jiwa akan tersesat dalam kenikmatan badan dan kecongkakan pikiran.

Kembali ke cerita awal tentang bandul kehidupan yang membuat jiwa-jiwa jadi gelisah, salah satu jalan pulang bernama meditasi yang menekankan jalan tengah. Di jalan tengah seperti ini, kita belajar menjadi saksi yang penuh senyuman. Sebagai akibatnya, semakin lama gerakan bandulnya semakin lembut. Tatkala bandulnya istirahat di titik tengah, itulah kedamaian.

Copas dari ; gedeprama.blogdetik.com

Nyekah Massal ( Ngeseng Puspa Lingga )

image

Om Swastyastu, dumugi kenak rahajeng sareng sinamian.
Terkait dengan rangkaian Upacara Nyekah Massal, dilanjutkan dengan prosesi upacara Ngeseng Puspa Lingga yang sebelumnya sudah dilakukan prosesi
Muspa, yakni upacāra persembahyangan yang didahului pemujaan kepada Sang Hyang Surya sebagai saksi agung alam semesta, kemudian kepada para dewata dan leluhur, serta sembah untuk pelepasan roh (Ātma) dari ikatan Suksma Śarīra yang diikuti oleh Sang Yajamana dan seluruh keluarga besarnya.

Selanjut nya yaitu Pralina, yakni upacāra tahap akhir dilakukan oleh pandita (Sulinggih) sebagai simbol pelepasan Ātma dari ikatan Suksma Śarīra.

Dilanjutkan dengan prosesi Ngeseng Puṣpalingga, yakni membakar puṣpaśarīra (wujud roh) di atas dulang dari tanah liat atau dulang perak, dengan sarana sepit, panguyegan, balai gading dan lain-lain, dengan api pembakaran yang diberikan oleh pandita pemimpin upacāra. Upacāra ini sangat baik dilakukan pada dini hari, saat dunia dan segala isinya dalam suasana hening guna mengkondisikan pelepasan Ātma dari keduniawian.

Selesai upacāra Ngeseng, maka arang/abu dari puṣpaśarīra dimasukkan ke dalam degan (kelungah) kelapa gading, dibungkus kain putih dan dihias dengan bunga harum selanjutnya disthanakan di dalam bukur, di atas padma anglayang atau di dalam bokor perak, diikuti dengan persembahyangan oleh keluarga.

Nganyut Sekah ke Segara. Upacāra ini merupakan tahap terakhir dari upacāra Mamukur, dapat dilakukan langsung selesai upacāra Ngeseng atau keesokan pagi harinya, juga disebut upacāra Ngirim.

Demikian informasi yang bisa disampaikan, mohon maaf bila ada kesalahan mohon dikoreksi.
Terimakasih kepada an: ac fb gungraidarmakahuripan atas dokumuntasinya.

Om Santhi Santhi Santhi Om

image

image

image

image

Nyekah Massal ( Puncak Karya )

Nyekah Massal ( Puncak Karya )

Om Swastyastu,
Domugi Rahayu sareng sinamian
Rahina, Buda umanis uku dukut pinanggal 24 september 2014 jam 9.00 pagi.
Dalam semerbak harum dupa dan merdunya senandung kidung dengan diiringi gamelan angklung menghantarkan suasana yang penuh haru dan kidmat dalam kesakralan mengawali Upacara Nyekah Massal pagi ini, antusias krama banjar aseman begitu tinggi dalam mengikuti upacara ini.
Upacara Nyekah ini diikuti oleh 10 puspa yang sebagian besar dari krama banjar aseman, dan 1 dari semeton desa sedang.
Upacara ini sekaligus sebagai wujud nyata dari kerukunan dan sikap gotong royong dari krama adat br.aseman,abiansemal yang masih lekat.

Diawali dengan prosesi Mapurwadaksina, yakni prosesi (mapeed) bagi puṣpaśarīra (yang dipangku atau dijunjung oleh anak cucu keturunannya, mengelilingi panggung Payajñan sebanyak 3 kali (dari arah Selatan ke arah Timur) mengikuti jejak lembu putih (sapi gading), yang dituntun oleh gembalanya, di atas hamparan kain putih, dilakukan secara khusuk , diiringi gamelan serta kidung, kakawin, pembacaan parwa .

Setelah prosesi mepurwadaksina selesai dilanjutkan dengan prosesi Angamet Toya Hening. Rangkaian upacāra ini dilakukan berupa prosesi (mapeed) mengambil air jernih (toya hening) sebagai bahan utama air suci (Tirtha) bagi pandita atau dwijati yang akan memimpin upacāra yajña tersebut. Toya hening tersebut ditempatkan di bale Pamujan (Pawedan) di depan panggung Payajñan.
Demikian sementara infomasi yang bisa disampaikan di dimedia ini, dumogi memargi antar labde karya.

Om Santhi Santhi Santhi Om
Sekilas dalam gambar ;
image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Damai brooo!!

Om Swastyastu, good morning selamat pagi semeton and mas brooo,
Sebelum menginjak acara puncak, Upacara Nyekah Masal Perdana, hari ini Kamis 24 September 2014, baiknya nyantai dulu tenangkan pikiran senyum lebar dan tentunya harapan nanti Upacara bisa berjalan lancar labda karya.

image

Mantap bossss!!!

Semoga damai selalu
Om Santhi Santhi Santhi Om

Damai brooo!!

Om Swastyastu, good morning selamat pagi semeton and mas brooo,
Sebelum menginjak acara puncak, Upacara Nyekah Masal Perdana, hari ini Kamis 24 September 2014, baiknya nyantai dulu tenangkan pikiran senyum lebar dan tentunya harapan nanti Upacara bisa berjalan lancar labda karya.

image

Mantap bossss!!!

Semoga damai selalu
Om Santhi Santhi Santhi Om

Nyekah Massal 3( Ngangget Don Bingin)

Om Swastyastu,
Semoga kita warga Br.Aseman selalu dalam keadaan sehat dalam Lindungan Hyang Widhi Wasa.
Melanjutkan tulisan yang kemarin mengenai rangkaian Upacara Nyekah, hingga saatnya sekarang dilanjutkan dengan upacara Ngangget Don Bingin, yakni upacāra memetik daun beringin (kalpataru/kalpavṛiksa) untuk dipergunakan sebagai bahan puṣpaśarīra (simbol badan roh) yang nantinya dirangkai sedemikian rupa seperti sebuah tumpeng (dibungkus kain putih), dilengkapi dengan prerai (ukiran/lukisan wajah manusia, laki/perempuan) dan dihiasi dengan bunga ratna. Upacāra ini berupa prosesi (mapeed) menuju pohon beringin diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lain, sebagai alas daun yang dipetik adalah tikar kalasa yang di atasnya ditempatkan kain putih sebagai pembungkus daun beringin tersebut.